BERITAINEWS, Makassar – Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an (PPTQ) Raudhatul Jannah menggelar kegiatan Pembekalan Imam dan Muballigh dengan tema “Peran Imam dan Muballigh dalam Meningkatkan Kesejahteraan Ummat”, Rabu (11/2/2026).
Kegiatan ini bertujuan untuk mengasah keterampilan santri dalam berdakwah serta mempersiapkan mereka menjadi imam dan muballigh yang siap terjun di tengah masyarakat, khususnya menjelang bulan suci Ramadan.
Pimpinan PPTQ Raudhatul Jannah, Ustadz Dr. Juhri, S.S., M.Hum., dalam sambutannya berharap kegiatan ini dapat menjadi wadah pengembangan kemampuan santri dalam bidang dakwah.
“Semoga kegiatan ini dapat memberikan keterampilan kepada seluruh santri agar terampil sebagai da’i, imam, dan muballigh di tengah masyarakat,” ujar Ustadz Juhri.
Ia menekankan pentingnya kesiapan mental, ilmu, serta akhlak dalam menjalankan peran sebagai imam dan muballigh, agar dakwah yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.
Kegiatan ini menghadirkan dua pemateri, yakni Dr. H. Muhammad Rusli, S.HI., M.H. dan Dr. Jamaluddin, S.Pd.I., M.E., yang merupakan dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Dalam materinya, Dr. Muhammad Rusli menekankan pentingnya berdakwah dengan pendekatan yang bijak dan tidak menyakiti perasaan orang lain.
“Berdakwahlah tanpa harus menyakiti orang lain. Jangan menyalahkan jika ada perbedaan pendapat,” jelasnya.
Ustadz yang akrab disapa Songko Tinggia ini juga mengingatkan pentingnya memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan dan memperbaiki kualitas bacaan Al-Qur’an.
“Seorang da’i harus diperkaya dengan ilmu, termasuk juga memperbaiki bacaan Al-Qur’annya agar dakwah yang disampaikan lebih berkualitas,” tuturnya.
Sementara itu, Dr. Jamaluddin memaparkan tentang besarnya tanggung jawab seorang imam dalam memimpin jamaah, karena setiap bacaan dan gerakan akan diikuti oleh makmum.
“Seorang imam harus memiliki bacaan yang mantap dan bagus, karena jika imam salah, maka yang lain juga bisa ikut salah,” tegasnya.
Kegiatan pembekalan ini disambut antusias oleh para santri, yang aktif mengikuti sesi materi dan diskusi bersama para pemateri.
Acara ditutup dengan sesi diskusi interaktif serta foto bersama sebagai bentuk dokumentasi dan penguatan kebersamaan antara pimpinan, pemateri, dan para santri.(*)