BERITAINEWS MAKASSAR — Kalla Toyota menilai awal 2026 menjadi periode penuh tekanan bagi industri otomotif nasional, seiring kenaikan harga kendaraan akibat penyesuaian pajak dan berakhirnya sejumlah insentif pemerintah. Namun di tengah pelemahan pasar, segmen kendaraan hybrid justru mencatatkan pertumbuhan signifikan.
General Manager Marketing Kalla Toyota, Suliadin, mengatakan kenaikan harga kendaraan per 1 Januari 2026 dipicu oleh naiknya harga beli dari pabrik serta penyesuaian Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPNBM), dan pajak kendaraan bermotor.
“Yang paling berdampak adalah berakhirnya subsidi opsen pajak di beberapa wilayah. Dampaknya langsung terasa terhadap harga dan permintaan,” ujar Suliadin dalam press conference Sambut Ramadhan Bersama Toyota, Selasa (6/1/2026).
Tekanan pasar semakin kuat dengan dihentikannya insentif PPNBM 3 persen untuk kendaraan hybrid. Akibatnya, harga beberapa model unggulan mengalami kenaikan signifikan.
“Untuk model seperti Innova dan Yaris Cross, kenaikan bisa mencapai sekitar Rp10 juta. Model lainnya rata-rata naik Rp2–3 juta,” jelasnya.
Meski pasar otomotif secara umum terkontraksi sekitar 13 persen, Kalla Toyota justru mencatatkan pertumbuhan penjualan kendaraan hybrid hingga 15 persen secara tahunan. Kontributor utama berasal dari Kijang Innova Zenix Hybrid.
Sepanjang 2025, penjualan hybrid Kalla Toyota mencapai 1.200 unit, meningkat dari 1.000 unit pada 2024. Tren positif ini berlanjut pada awal 2026, dengan pesanan hybrid yang sudah mulai terkumpul sejak Januari.
“Minat terhadap hybrid terus meningkat karena dinilai lebih rasional, baik dari sisi layanan purna jual maupun nilai jual kembali,” kata Suliadin.
Menjelang Ramadan dan Lebaran, Kalla Toyota menargetkan penjualan bulanan pada kisaran 1.800 hingga 2.000 unit, dengan Lebaran diproyeksikan menjadi penentu puncak penjualan tahun ini.
Kalla Toyota juga berharap pemerintah dapat mempertimbangkan kembali pemberian subsidi opsen pajak kendaraan bermotor. Menurut Suliadin, kebijakan tersebut berpotensi mendorong pemulihan pasar hingga 15–20 persen, khususnya di wilayah dengan kontribusi penjualan besar seperti Sulawesi selatan.(bb)