BERITAINEWS MAKASSAR —“Sampah tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah dari tempat yang mengganggu pandangan kita ke tempat yang mengganggu kehidupan orang lain.”
Ada sebuah kebiasaan yang cukup mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia: ketika sesuatu tidak ingin kita lihat, kita memindahkannya.
Masalah politik diserahkan kepada panitia.
Masalah sosial diserahkan kepada pemerintah.
Masalah lingkungan diserahkan kepada dinas kebersihan.
Dan sampah?
Tentu saja dipindahkan ke TPA.
Kita kemudian merasa lega.
Rumah bersih.
Halaman bersih.
Jalan raya bersih.
Kota tampak bersih.
Seolah-olah persoalan selesai hanya karena sampah tidak lagi berada di depan mata.
Inilah mungkin bentuk paling sederhana dari politik kebersihan: yang penting, kotoran tidak terlihat.
Negeri yang Gemar Menyembunyikan Sampah
Selama puluhan tahun, kita membangun sistem persampahan dengan logika yang hampir menyerupai mantra: kumpulkan, angkut, buang.
Warga membuang.
Petugas mengangkut.
Truk membawa.
TPA menerima.
Besok diulang lagi.
Lusa diulang lagi.
Bulan depan diulang lagi.
Tahun depan kita mengeluhkan TPA yang penuh.
Kemudian kita mencari lahan baru.
Lalu kita membangun fasilitas baru.
Setelah itu, kita kembali menghasilkan sampah.
Begitu seterusnya.
Kita seperti bangsa yang sangat rajin menyapu ruang tamu, tetapi membiarkan gudang belakang terbakar.
Ada sesuatu yang keliru dalam cara berpikir semacam ini.
Kita mengukur keberhasilan pengelolaan sampah berdasarkan berapa ton yang berhasil diangkut, bukan berdasarkan berapa ton yang berhasil dicegah agar tidak menjadi sampah.
Truk penuh dianggap sebagai prestasi.
TPA menerima banyak sampah dianggap sebagai tanda bahwa pelayanan berjalan.
Padahal, dalam logika ekonomi sirkular, semakin banyak sampah yang harus dibawa ke TPA justru dapat menjadi tanda bahwa sistem kita gagal di hulu.
Namun, begitulah birokrasi.
Hal-hal yang mudah dihitung sering kali lebih disukai daripada perubahan yang harus diupayakan.
Truk yang berangkat mudah didokumentasikan.
Tonase mudah dicantumkan dalam laporan.
Jumlah armada mudah diumumkan.
Perubahan perilaku?
Agak merepotkan.
Ia tidak dapat diparkir di halaman kantor.
TPA Bukan Mesin Penghapus Dosa
Kita perlu mengubah satu cara berpikir yang sangat mendasar.
TPA bukan tempat untuk menghilangkan sampah.
TPA adalah tempat untuk mengelola residu yang tersisa setelah sebanyak mungkin material dikurangi, digunakan kembali, didaur ulang, atau diolah.
Namun, dalam praktik sehari-hari, TPA sering diperlakukan seperti mesin penghapus dosa.
Apa pun yang kita buang dari rumah, biarlah TPA yang mengurusnya.
Sisa makanan?
TPA.
Plastik?
TPA.
Kardus?
TPA.
Popok?
TPA.
Kasur rusak?
TPA.
Barang yang tidak kita ketahui namanya?
TPA.
Kalau memungkinkan, sekalian masalah tetangga juga dikirim ke TPA.
Kita membangun kebudayaan yang aneh: produsen sampah tidak merasa bertanggung jawab atas nasib sampahnya sendiri.
Tanggung jawab berhenti di depan pintu rumah.
Begitu kantong hitam berpindah tangan kepada petugas, hati kita pun terasa lebih ringan.
Padahal, beban itu tidak hilang.
Ia hanya berpindah tangan.
Yang Tidak Terlihat Bukan Berarti Tidak Ada
Ada seorang warga yang membuang sampah ke tong campuran.
Ia tidak melihat siapa yang mengurusnya setelah itu.
Ia tidak melihat petugas membuka kantong tersebut.
Ia tidak melihat tangan yang memisahkan botol dari sisa makanan.
Ia tidak melihat pemulung yang bekerja di antara bau, lalat, dan benda tajam.
Ia tidak melihat keluarga yang hidup di sekitar TPA.
Ia juga tidak melihat sungai yang perlahan menerima sebagian sampah yang gagal kita kelola.
Karena itu, ia merasa tidak melakukan kesalahan.
Di sinilah persoalan sampah berubah menjadi persoalan etika yang tidak terlihat.
Kita sering menganggap sesuatu tidak bermasalah selama akibatnya tidak kembali kepada kita.
Padahal, lingkungan bekerja dengan cara yang berbeda.
Air tidak mengenal batas administrasi.
Udara tidak memiliki KTP.
Sungai tidak membaca sertifikat tanah.
Mikroplastik tidak bertanya siapa yang membuangnya.
Alam tidak mengenal konsep “bukan urusan saya”.
Manusialah yang menciptakannya.
Mobil Mewah dan Bungkus Plastik
Bayangkan dua orang.
Yang pertama mengendarai mobil mewah, lalu membuang bungkus makanan ke jalan.
Yang kedua tinggal di rumah sederhana, tetapi memisahkan kulit buah untuk komposter dan botol plastik untuk bank sampah.
Siapa yang lebih berpendidikan?
Kita sering menjawabnya dengan melihat ijazah.
Padahal, lingkungan memberikan ujian yang berbeda.
Ia tidak bertanya lulusan universitas mana.
Ia hanya bertanya:
“Apa yang kamu lakukan terhadap sesuatu yang sudah tidak kamu perlukan?”
Di situlah pendidikan menemukan makna yang sebenarnya.
Seseorang dapat bergelar doktor, tetapi tetap melempar puntung rokok dari kendaraan.
Seseorang dapat berbicara tentang pembangunan berkelanjutan dalam seminar di hotel bintang lima, lalu meninggalkan botol plastik di ruang rapat.
Seseorang dapat berpidato tentang masa depan generasi muda sambil membiarkan sungai di belakang rumah menjadi saluran sampah.
Ironis?
Tentu.
Namun, begitulah kita.
Kadang-kadang kita terlalu pandai berbicara tentang masa depan, tetapi enggan mengurus sampah hari ini.
Dua Tong Sampah Lebih Jujur daripada Seribu Baliho
Kita menyukai slogan.
“Kota Bersih.”
“Makassar Hijau.”
“Indonesia Emas.”
“Generasi Peduli Lingkungan.”
Semuanya indah.
Baliho dapat dicetak.
Spanduk dapat dipasang.
Seremoni dapat dilaksanakan.
Foto dapat diunggah.
Namun, setelah acara selesai, sampah konsumsi biasanya tetap harus diangkut.
Di sinilah dua tong sampah sering kali lebih jujur daripada seribu slogan.
Sebab, dua tong memaksa manusia untuk memilih.
Organik atau anorganik?
Daur ulang atau residu?
Tanggung jawab atau kenyamanan?
Kepedulian atau sekadar pencitraan?
Pemilahan adalah referendum kecil setiap hari.
Dan yang memilih adalah tangan kita sendiri.
Petugas Kebersihan Bukan Budak Kenyamanan Kita
Ada satu dimensi yang sering luput dari pembicaraan tentang sampah: martabat pekerja.
Kita menyebut mereka petugas kebersihan.
Sering kali kita hanya melihat seragamnya, bukan manusia di baliknya.
Ketika kita membuang sampah bercampur, sesungguhnya kita sedang menambah beban bagi tubuh manusia lain.
Ia yang mengangkat.
Ia yang memilah.
Ia yang berhadapan dengan benda tajam.
Ia yang menghirup bau.
Ia yang bekerja ketika sebagian besar dari kita masih tidur.
Karena itu, memilah sampah bukan hanya tindakan ekologis.
Ia adalah tindakan kemanusiaan.
Sampah yang terpilah merupakan bentuk penghormatan sederhana kepada mereka yang bekerja di garis depan kebersihan kota.
Jika kita belum mampu memberikan penghormatan dalam bentuk upah yang layak, perlindungan kerja, dan jaminan sosial yang memadai, setidaknya jangan membuat pekerjaan mereka semakin berbahaya akibat kelalaian kita.
Politik Sampah Dimulai dari Rumah
Ada kecenderungan untuk menjadikan pemerintah sebagai satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas persoalan sampah.
Pemerintah dianggap harus menyediakan semuanya.
Armada.
TPS.
TPA.
Petugas.
Teknologi.
Pengolahan.
Penertiban.
Semuanya dibebankan kepada pemerintah.
Tentu, pemerintah memiliki tanggung jawab besar.
Namun, warga juga memiliki kewajiban ekologis.
Jika lebih dari satu juta penduduk kota masing-masing menghasilkan sampah setiap hari, tidak ada armada yang akan cukup apabila seluruh persoalan diselesaikan hanya dengan mengangkut.
Kita akan kalah oleh matematika.
Karena itu, kebijakan persampahan harus mengubah hubungan antara warga, pemerintah, dan sampah.
Warga bukan sekadar pelanggan layanan kebersihan.
Warga adalah produsen sampah sekaligus aktor utama dalam pengurangannya.
Pemerintah bukan sekadar operator truk.
Pemerintah harus menjadi regulator, fasilitator, edukator, sekaligus penggerak ekosistem ekonomi sirkular.
Dan petugas kebersihan bukan sekadar tenaga angkut.
Mereka adalah bagian penting dari rantai nilai material yang selama ini sering kita abaikan.
Bank Sampah dan Revolusi Kecil di RT
Karena itu, perubahan besar tidak selalu harus dimulai dari gedung pemerintahan.
Ia dapat dimulai dari RT.
Satu bank sampah.
Satu komposter.
Satu kelompok warga.
Satu sekolah.
Satu pasar.
Satu rumah makan.
Kemudian berkembang menjadi jaringan.
Di situlah gotong royong menemukan bentuk ekologisnya.
Botol plastik tidak lagi sekadar botol.
Ia menjadi komoditas.
Sisa makanan tidak lagi sekadar sumber bau.
Ia menjadi kompos.
Minyak jelantah tidak lagi sekadar limbah.
Ia dapat menjadi bahan baku.
Kardus tidak lagi sekadar benda yang memenuhi gudang.
Ia menjadi nilai ekonomi.
Inilah ekonomi sirkular yang sebenarnya.
Bukan jargon konferensi.
Bukan istilah yang hanya terdengar menarik di ruang rapat.
Melainkan praktik sehari-hari yang membuat sampah kembali menjadi sumber daya.
Bangsa Besar Tidak Mengekspor Sampahnya ke Masa Depan
Kita sering berbicara tentang kedaulatan.
Kedaulatan pangan.
Kedaulatan energi.
Kedaulatan ekonomi.
Namun, ada satu bentuk kedaulatan yang jarang dibicarakan: kedaulatan ekologis.
Sebuah bangsa yang terus-menerus memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat lain tanpa menyelesaikan sumber persoalannya pada akhirnya sedang mewariskan tagihan ekologis kepada generasi berikutnya.
Anak-anak kita akan menerima sungai yang lebih kotor.
Tanah yang terkontaminasi.
Laut yang semakin dipenuhi plastik.
TPA yang semakin besar.
Dan biaya pemulihan lingkungan yang semakin mahal.
Kita menikmati barang hari ini.
Namun, tagihannya dikirim kepada anak cucu.
Ini bukan sekadar masalah lingkungan.
Ini adalah masalah keadilan antargenerasi.
Peradaban Dimulai dari Hal yang Memalukan
Mungkin kita perlu berhenti menganggap memilah sampah sebagai pekerjaan kelas dua.
Justru di sanalah tingkat peradaban kita diuji.
Seorang pejabat yang membuang sampah sembarangan sedang memberikan pendidikan publik yang buruk.
Seorang guru yang memilah sampah sedang mengajar tanpa papan tulis.
Seorang ibu yang mengompos sedang mengajarkan ekonomi sirkular tanpa menggunakan istilah ekonomi sirkular.
Seorang petugas kebersihan yang bekerja dengan sampah terpilah sedang menerima penghormatan yang mungkin tidak pernah kita ucapkan.
Dan seorang anak yang memasukkan botol plastik ke tempat yang benar sedang mempelajari satu pelajaran penting:
dunia bukan tempat untuk kita habiskan sesuka hati.
Kita hanya menumpang sebentar.
Jangan Bangga Dulu Kalau Kota Terlihat Bersih
Kota yang bersih belum tentu menunjukkan masyarakat yang beradab.
Bisa saja sampahnya hanya dipindahkan.
Bisa saja jalan protokol bersih karena sampahnya menumpuk di kampung lain.
Bisa saja pusat kota terlihat rapi, sementara sungai di pinggiran menanggung limbahnya.
Kebersihan semacam itu hanya bersifat kosmetik.
Peradaban ekologis membutuhkan lebih dari sekadar kota yang enak dipandang.
Ia membutuhkan sistem yang adil.
Warga yang bertanggung jawab.
Pemerintah yang konsisten.
Pekerja yang dihormati.
Teknologi yang tepat.
Ekonomi yang sirkular.
Dan yang paling penting: perubahan cara berpikir.
Sebab, tujuan akhir pengelolaan sampah bukanlah membuat TPA semakin hebat.
Tujuannya adalah membuat TPA semakin tidak diperlukan untuk sampah yang sebenarnya masih dapat dicegah dan diolah.
Maka, mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya:
“Berapa banyak sampah yang dapat kita angkut?”
Dan mulai bertanya:
“Berapa banyak sampah yang tidak perlu kita hasilkan?”
Pertanyaan kedua memang lebih sulit.
Sebab, ia memaksa kita mengubah perilaku.
Dan perubahan perilaku tidak dapat diselesaikan dengan mengganti slogan.
Ia membutuhkan kesadaran.
Kedisiplinan.
Keteladanan.
Kebijakan.
Dan sedikit keberanian untuk mengakui bahwa selama ini kita mungkin telah terlalu nyaman menjadi bangsa yang pandai memindahkan masalah ke belakang rumah.
Pada akhirnya, ukuran peradaban bukanlah seberapa cepat sebuah kota mengangkut sampahnya.
Ukuran peradaban adalah seberapa jauh warganya bersedia bertanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan.
Sebab, sampah tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya menunggu.
Menunggu masuk ke sungai.
Menunggu terbawa ke laut.
Menunggu menjadi mikroplastik.
Menunggu kembali ke meja makan.
Atau menunggu kita cukup dewasa untuk mengelolanya.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika anak cucu kita bertanya mengapa kota-kota dahulu penuh sampah, kita tidak perlu menjawab dengan alasan yang panjang.
Cukup katakan:
“Waktu itu kami belum memahami bahwa membuang sampah sebenarnya berarti membuang sebagian dari masa depan kami sendiri. (Mashud Azikin)







