BERITAINEWS MAKASSAR —Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar resmi mendaftarkan inovasi SIGAP PESISIR (Sistem Informasi Gerak Cepat Pesisir) dalam ajang Innovative Government Award (IGA) 2026 yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Republik Indonesia.
Kepala BPBD Kota Makassar, Dr. H. M. Fadli Tahar, mengatakan SIGAP PESISIR tidak hanya mengandalkan teknologi, tetapi juga membangun pola tata kelola kebencanaan dengan menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam sistem peringatan dini.
“Kecepatan respons adalah faktor yang menentukan keselamatan jiwa,” ujarnya, Kamis (30/7/2026).
Inovasi yang digagas Kepala BPBD Kota Makassar, Dr. Fadli Tahar, tersebut dirancang untuk memperkuat sistem penanggulangan bencana di wilayah pesisir, khususnya dalam mempercepat penyampaian informasi dan respons terhadap kejadian bencana.
Dikatakan, SIGAP PESISIR hadir untuk menjawab salah satu persoalan utama penanggulangan bencana di kawasan pesisir Makassar.
Apalagi, selama ini belum optimalnya sistem peringatan dini berbasis komunitas yang terstandardisasi dan terhubung secara real-time antara BPBD dengan kelurahan-kelurahan pesisir yang memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi.
“SIGAP PESISIR membangun ekosistem yang menghubungkan masyarakat, kelurahan, kecamatan, dan BPBD dalam satu sistem yang terintegrasi,” tutur Fadli.
Inovasi ini merupakan proyek perubahan yang dikembangkan dalam rangka Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan IV Tahun 2026 yang diselenggarakan Lembaga Administrasi Negara (LAN).
Proyek perubahan tersebut telah melalui tahapan seminar dan uji proyek perubahan yang diuji langsung oleh Dr. Muhammad Aswad, M.Si., Kepala Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Manajemen Pemerintahan (Pusjar SKMP) LAN Makassar.
Proses pengembangan SIGAP PESISIR juga mendapat pendampingan intensif dari Coach PKN Tingkat II, Nurwahyud Anti, S.S., M.HRM.IR. Pendampingan dilakukan sejak tahap perencanaan, penyempurnaan desain inovasi hingga implementasi di lapangan.
Menurut Fadli, melalui SIGAP PESISIR, BPBD Makassar mengintegrasikan Standar Operasional Prosedur (SOP) terpadu, jejaring Kelurahan Tangguh Bencana (KALTANA), Kecamatan Tangguh Bencana (KENCANA), dashboard pemantauan, serta komunikasi digital berbasis waktu nyata.
“Sistem inovasi ini, memungkinkan informasi mengenai kejadian bencana diterima, diverifikasi, dan ditindaklanjuti secara lebih cepat,” jelasnya.
Dengan demikian, proses pengambilan keputusan hingga mobilisasi sumber daya ke lokasi kejadian dapat dilakukan secara lebih efektif.
Dia mengungkapkan, hasil uji coba menunjukkan dampak signifikan, waktu respons penanganan bencana yang sebelumnya rata-rata mencapai 90 menit berhasil dipangkas menjadi sekitar 15 menit.
Capaian tersebut menjadi salah satu indikator keberhasilan SIGAP PESISIR dalam membangun kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat sistem penanggulangan bencana yang cepat, adaptif, dan berorientasi pada keselamatan warga.
Menurutnya, pemangkasan waktu respons dari 90 menit menjadi 15 menit menunjukkan bahwa inovasi yang dibangun berdasarkan kebutuhan riil masyarakat dapat memberikan dampak langsung terhadap peningkatan keselamatan warga.
“Harapan kami, inovasi ini dapat menjadi referensi nasional bagi daerah-daerah pesisir dalam membangun sistem penanggulangan bencana yang lebih tangguh,” harapnya.
Lebih lanjut, Fadli menyampaiakan bahwa keikutsertaan SIGAP PESISIR dalam IGA 2026 tidak hanya menjadi representasi inovasi Pemerintah Kota Makassar di tingkat nasional.
Tetapi juga dapat menjadi model yang direplikasi oleh pemerintah daerah lain, khususnya wilayah pesisir yang menghadapi ancaman bencana.
Melalui inovasi tersebut, BPBD Makassar memperkuat komitmennya menghadirkan pelayanan kebencanaan yang cepat, terintegrasi, berbasis komunitas, dan berorientasi pada keselamatan masyarakat.
“SIGAP PESISIR menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem penanggulangan bencana dan kecepatan Pemerintah Kotadalam merespons kejadian, serta memperkuat kapasitas masyarakat sebagai garda terdepan dalam menghadapi ancaman bencana,” pungkas Fadli. (*)







