BERITAINEWS, MAKASSAR – Al Ustadz Udin Sangkala menguraikan pentingnya meraih ketakwaan sebagai hakikat utama bulan suci Ramadhan dalam ceramah Tarawih malam ke-13 di Masjid H Jamaluddin, BTN Saumata Indah, Kelurahan Romang Polong, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Senin malam (2/3/2026).
Dalam tausiyahnya, Ustadz Udin mengangkat tema “Hakikat Bulan Suci Ramadhan adalah Menyambutnya dengan Taqwa atau Marhaban Yaa Ramadhan by Taqwa”. Ia mengajak jamaah menjadikan Ramadhan sebagai momentum pembentukan karakter yang lebih baik.
Ustadz Udin Sangkala yang juga dikenal sebagai muballigh LD IKDA Sulawesi Selatan itu menegaskan bahwa tidak semua orang diberi kesempatan berjumpa kembali dengan Ramadhan.
“Sesungguhnya yang masih berkesempatan berjumpa bulan suci Ramadhan tahun ini adalah orang-orang yang telah dipilih oleh Allah Subhana wa Ta’ala. Karena itu, mari kita maksimalkan dengan memperbanyak amalan,” ujarnya di hadapan jamaah.
Menurutnya, Ramadhan merupakan madrasah ruhani yang membentuk pribadi bertaqwa melalui berbagai ibadah, mulai dari puasa, shalat Tarawih, hingga sedekah dan tilawah Al-Qur’an.
Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Ustadz Udin kembali menekankan bahwa puasa menjadi salah satu amalan utama dalam membangun karakter seorang hamba.
“Dengan puasa, semoga Allah Subhana wa Ta’ala menjadikan kita meraih predikat atau status taqwa. Karena yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling baik ketaqwaannya,” tutur Udin Sangkala.
Ia berharap jamaah tidak sekadar menjalankan ibadah secara ritual, tetapi juga mampu menghadirkan nilai ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga maupun lingkungan sosial.
Sementara itu, Pengurus Masjid H Jamaluddin, Syafruddin, menyampaikan apresiasi atas tausiyah yang diberikan kepada jamaah pada malam tersebut.
“Atas nama pengurus masjid, kami mengucapkan jazakumullahu khairan katsira atas kesediaan Bapak Al Ustadz memberikan tausiyah. Semoga ini menjadi motivasi bagi jamaah agar istiqomah dalam ibadah di bulan Ramadhan,” ucapnya.
Ia juga mengibaratkan shalat Tarawih seperti cinta yang membutuhkan konsistensi hingga akhir Ramadhan.
“Shalat Tarawih itu diibaratkan seperti cinta, bukan soal siapa yang pertama datang, tetapi siapa yang mampu bertahan hingga berakhirnya bulan Ramadhan. Mari kita sambut Ramadhan ini dengan taqwa,” pungkas Syafruddin.(*)







