Musda Golkar Sulsel: Mengapa Appi dan Andi Ina Dipinggirkan?

BERITAINEWS MAKASSAR —Munafri Arifuddin dan Andi Ina Kartika Sari merupakan dua kader murni Partai Golkar Sulawesi Selatan yang tumbuh dari proses panjang di internal partai. Keduanya berada pada generasi yang sama, memahami dinamika politik kekinian, dan memiliki modal elektoral yang telah teruji.

Bacaan Lainnya

Di tengah perubahan lanskap politik yang semakin didominasi figur-figur muda, keduanya semestinya menjadi representasi regenerasi kepemimpinan Golkar di Sulawesi Selatan.

Tetapi menjelang Musda Golkar, publik demokrasi Sulsel heran, mengapa justru nama-nama seperti Munafri dan Andi Ina seolah sengaja digiring ke pinggir panggung menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulsel?

Padahal, rekam jejak keduanya bukan sekadar potensi, melainkan prestasi yang dapat diukur. Munafri berhasil mengantarkan Golkar memenangi Pilkada Kota Makassar, sementara Andi Ina Kartika Sari membawa kemenangan di Kabupaten Barru. Di daerah lain, Golkar juga menunjukkan capaian melalui figur seperti Suwardi Haseng di Soppeng, Muhammad Natsir Ali di Kepulauan Selayar, hingga Patahudding di Kabupaten Luwu. Semua ini menunjukkan bahwa regenerasi bukan sekadar wacana, tetapi sudah bekerja di lapangan.

Khusus Munafri, fakta politiknya sulit diabaikan. Ia berhasil membangun kekuatan politik di Makassar, bahkan telah pernah mengantongi dukungan mayoritas pemilik suara tanpa bergantung pada intervensi dari DPP Partai Golkar melalui “seruan” selembar kertas atas nama “deskresi” atau perintah Ketum. Munafri membangun sebuah demokrasi sebagaimana ekosistem partai Golkar itu sendiri.

Fakta lain, dalam berbagai dinamika politik, Munafri mampu membawa Golkar memenangkan Pilkada di ibu kota Sulawesi Selatan. Itu bukan pencapaian kecil.

Sayangnya, khusus Golkar di Sulsel cendrung agak laen dan ironi. Mereka yang bekerja membangun fondasi justru dipaksa “minggirko dulu”.
Sementara panggung kembali disiapkan bagi tokoh-tokoh yang sesungguhnya telah melewati momentum terbaiknya.

Regenerasi tidak boleh berhenti hanya menjadi slogan. Partai yang terus bergantung pada figur lama, tanpa memberi ruang yang cukup bagi kader yang telah membuktikan kapasitasnya, berisiko kehilangan energi baru. Yang dipertaruhkan bukan hanya hasil satu Musda, melainkan daya saing partai dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan.

Partai pesaing Golkar di Sulsel, seperti Gerindra, Nasdem, PKB, Demokrat dan PSI, semuanya berenergi baru. Partai pesaing terberat Golkar di Sulsel ini, didominasi anak-anak muda dan mereka diberi ruang untuk membuktikan kapasitasnya. Sementara anak-anak muda Golkar seperti Supriansyah, Rahman Pina, Andi Aldin, Arief Rosyid, Abdurahman Alfarisi, Risman Pasigai, Upel, Anjas, Zulham
dibiarkan terus berdiri di antrian panjang dan dibiarkan menua di partai dan akhirnya menjadi beban partai.

Politik membutuhkan pengalaman. Tetapi pengalaman yang menolak memberi jalan kepada generasi berikutnya perlahan berubah menjadi beban. Pada titik itu, partai tidak lagi sibuk menyiapkan masa depan, melainkan terus mengulang masa lalu. Dan itulah yang selalu titik awal tokoh tokoh Golkar di Sulsel yang harusnya telah pensiun dalam blantika demokrasi di Sulsel.

Jika Golkar ingin kembali menjadi kekuatan utama di Sulawesi Selatan, maka keberanian untuk mempercayakan kepemimpinan kepada generasi baru adalah sebuah kebutuhan, bukan sekadar pilihan. Munafri Arifuddin dan Andi Ina Kartika Sari adalah bagian dari generasi itu. Keduanya diterima secara baik, positif oleh mesin algoritma digital. Bukankah algoritma yang akan menjadi nilai untuk politik masa depan?

Karena ada pepatah yang layak diingat dan direnungkan para petinggi, tokoh dan orang-orang Golkar, khususnya Golkar Sulsel.
“Pohon yang terus menaungi tanpa memberi ruang cahaya kepada tunas di bawahnya, pada akhirnya akan kehilangan hutan yang ingin dipertahankannya.” Tabe, selamat berMusda.

Oleh : Mulawarman, (Jurnalis Senior)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *