BERITAINEWS, LUWU TIMUR – Rencana pengalihan rute (reroute) pipa minyak PT Vale Indonesia Tbk di Dusun Balambano, Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur, menuai tanggapan berbeda dari masyarakat. Di tengah penolakan sejumlah warga, Arpa Jaska, warga yang telah lama bermukim di Balambano, menyatakan tidak keberatan dengan rencana jalur pipa tersebut.
Arpa mengaku tidak merasa khawatir apabila pipa minyak melintas di dekat tempat tinggalnya. Ia meyakini perusahaan telah mempertimbangkan aspek teknis dan keamanan dalam merencanakan jalur pipa tersebut.
“Saya pribadi sama sekali tidak keberatan meskipun pipa minyak itu lewat dekat rumah. Malah, saya sangat bersyukur dengan keberadaan Vale Indonesia,” ujar Arpa saat dikonfirmasi belum lama ini.
Menurut Arpa, kehadiran PT Vale selama ini turut membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat Balambano, terutama dalam hal akses transportasi dan kemudahan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Saya tumbuh dan tua di Balambano, Pak. Kami merasakan betul bagaimana kehadiran perusahaan ini mengubah desa. Dulu, kalau tidak ada Vale, betapa sulitnya kami membeli beras ke Wasuponda. Sekarang jalanan sudah bagus, tidak perlu lagi berjalan kaki jauh hanya untuk berbelanja,” tuturnya.
Ia juga menilai aktivitas perusahaan turut membuka peluang kerja bagi masyarakat setempat. Arpa mengaku menjadi salah satu warga yang memperoleh penghasilan melalui pekerjaan yang berkaitan dengan PT Vale.
“Banyak warga sekarang punya penghasilan tetap, termasuk saya sendiri yang bisa bekerja berkat PT Vale. Boleh dibilang, kesejahteraan warga Balambano terangkat,” katanya.
Terkait rencana jalur pipa, Arpa berpendapat keputusan teknis seharusnya mempertimbangkan perhitungan dan ketentuan yang berlaku. Ia juga menegaskan bahwa penolakan terhadap proyek tersebut tidak mewakili seluruh warga Balambano.
“Kalau ada yang bilang semua warga Balambano menolak, itu sama sekali tidak benar. Saya bahkan sudah sampaikan kepada perwakilan perusahaan, sekalipun pipa minyak itu harus melintas di atas tanah pribadi saya, saya tidak akan menuntut ganti rugi,” ungkapnya.
Arpa juga mengkhawatirkan perubahan rute justru berpotensi memunculkan persoalan baru di lokasi lain, termasuk kemungkinan sengketa lahan dan tuntutan kompensasi. Namun, pandangannya tersebut merupakan pendapat pribadi yang perlu dipertimbangkan bersama kajian teknis dan aspirasi masyarakat terdampak.
Sebelumnya, rencana jalur pipa minyak PT Vale di Balambano menuai penolakan dari puluhan warga yang tergabung dalam Forum Komunikasi Balambano. Mereka menyampaikan kekhawatiran terhadap potensi kebocoran pipa serta meminta transparansi dan sosialisasi lebih luas mengenai dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan pentingnya komunikasi terbuka antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat. Penjelasan mengenai aspek keselamatan, kajian lingkungan, serta proses penentuan rute diperlukan agar keputusan yang diambil dapat dipahami dan mempertimbangkan kepentingan seluruh warga yang berpotensi terdampak.(**)







