BERITAINEWS MAKASSAR —Tangis seorang ibu pecah saat menceritakan nasib anak perempuannya yang hingga kini tak kunjung pulang. Nur Azzahra Putri Ramadhani (16), remaja asal Kecamatan Manggala, Kota Makassar, dilaporkan meninggalkan rumah tanpa izin sejak Kamis, 18 Desember 2025, dan hingga kini telah hampir dua bulan menghilang tanpa kejelasan.
Ibu korban, Susanti Dewi Adriani, menegaskan bahwa kepergian putrinya tidak dipicu pertengkaran atau kekerasan dalam rumah tangga. Ia menyebut, percakapan terakhir dengan anaknya hanyalah nasihat sebagai orang tua terkait pendidikan.
“Saya cuma menasihati soal nilai sekolah. Saya bilang, kalau memang tidak bisa sekolah, mungkin lebih baik ke pesantren. Hanya itu. Tidak ada bentakan, tidak ada kekerasan,” ujar Susanti dengan suara bergetar. Rabu, 4 Februari 2026.
Namun, nasihat itu menjadi percakapan terakhir mereka. Dua hari setelahnya, Nur Azzahra meninggalkan rumah tanpa pamit dan tanpa meninggalkan pesan apa pun.
Kronologi Hilangnya Nur Azzahra kata Susanti.
Selasa malam (16 Desember 2025)
Ibu korban menasihati Nur Azzahra terkait nilai akademik di sekolah. Tidak terjadi pertengkaran atau tindakan kekerasan.
Rabu (17 Desember 2025)
Aktivitas korban masih berlangsung normal di rumah. Tidak ada tanda-tanda akan pergi.
Kamis pagi (18 Desember 2025) sekitar pukul 09.00 Wita
Nur Azzahra diketahui sudah tidak berada di rumah di Jalan Ujung Bori, Kelurahan Bitowa, Kecamatan Manggala, Makassar. Korban pergi tanpa pamit dan tanpa pesan.
Minggu (tiga hari setelah kejadian)
Keluarga menerima informasi dari teman-teman korban bahwa titik terakhir keberadaan Nur Azzahra diduga berada di Kalimantan Timur.
21 Desember 2025
Ibu korban resmi melaporkan peristiwa tersebut ke Polrestabes Makassar, tercatat dalam Laporan Informasi Nomor LI 1871/XIURES 1.24/2025/RESKRIM.
Desember 2025 – Februari 2026
Selama hampir dua bulan, keluarga mengaku belum menerima tindak lanjut berarti dari pihak kepolisian dan hanya diminta bersabar.
Awal Februari 2026
Keluarga melapor ke Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) Provinsi, yang kemudian melakukan koordinasi hingga ke aparat di Kalimantan Timur.
Hingga kini, Susanti mengaku belum mendapatkan kepastian mengenai keberadaan anaknya. Ia juga mengungkapkan kekecewaan karena belum adanya langkah konkret dari aparat penegak hukum.
“Jawaban dari penyidik cuma satu: sabar. Sudah hampir dua bulan, tidak ada tindakan nyata,” katanya.
Di tengah kebuntuan tersebut, harapan kembali muncul setelah pihak PPA melakukan komunikasi lintas daerah. Menurut Susanti, aparat di Kalimantan Timur disebut telah mengetahui informasi tersebut dan akan menindaklanjuti.
Meski demikian, rasa cemas sebagai seorang ibu tak pernah reda. Dengan suara lirih, Susanti menyampaikan pesan terbuka kepada putrinya.
“Kalau kamu dengar ini, Nak, pulanglah. Ibu tidak marah. Tidak ada dendam. Kami semua sayang sama kamu,” ucapnya.
Ia juga menyampaikan doa bagi siapa pun yang mungkin mengetahui keberadaan anaknya.
“Saya cuma minta, siapa pun yang menemukan anak saya, semoga Allah mudahkan hidupnya seumur hidup. Itu doa seorang ibu,” tutupnya. (bas)







