Kolaborasi Warga dan Yayasan Peduli Negeri Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi di Karunrung

BERITAINEWS MAKASSAR —Di tengah gencarnya penerapan kebijakan pemilahan sampah di Kota Makassar, Yayasan Peduli Negeri bersama warga khususnya para anak muda di ORW 04 Kelurahan Karunrung, Kecamatan Rappocini, menghadirkan sebuah model pengelolaan sampah yang melibatkan masyarakat secara langsung dari hulu hingga hilir.

Bacaan Lainnya

Program yang diprakarsai Yayasan Peduli Negeri itu tidak hanya mengajarkan warga memilah sampah organik dan anorganik, tetapi juga mengolahnya menjadi produk bernilai ekonomi.

Konsep yang dibangun menegaskan bahwa pengelolaan sampah bukan semata menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan tugas bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi nonpemerintah (NGO).

Manajer Program Yayasan Peduli Negeri, Syamsuddin, menjelaskan sistem yang diterapkan di RW 04 dibagi menjadi dua jalur utama.

Sampah anorganik seperti plastik, logam, kertas, dan kaca dikumpulkan melalui bank sampah, sementara sampah organik diolah menjadi berbagai produk yang bermanfaat.

“Untuk sampah anorganik, warga mengumpulkan plastik, logam, kertas, dan kaca di rumah masing-masing. Penimbangan dilakukan dua kali setiap bulan, yakni pada minggu kedua dan minggu keempat. Hasilnya dicatat dalam buku tabungan dan dikonversi menjadi nilai uang,” ujarnya saat ditemui Selasa (4/8/2026).

Melalui sistem tersebut, warga tidak hanya membantu mengurangi timbulan sampah, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dari sampah yang mereka kumpulkan.

Sementara itu, sampah organik tidak lagi dibuang begitu saja. Di RW 04, sampah dapur diolah melalui berbagai metode, mulai dari teba, budidaya maggot (BSF), biodigester penghasil biogas, eco-enzyme hingga pengolahan menjadi pupuk organik.

Saat ini telah tersedia enam unit teba di lingkungan RW 04 dan ditargetkan bertambah menjadi sepuluh unit agar seluruh kebutuhan pengolahan sampah organik warga dapat terlayani.

“Harapan kami, sampah organik tidak lagi dibuang ke luar lingkungan. Sebagian diolah melalui teba, sebagian lagi diproses di pusat pengolahan kami sehingga yang benar-benar dikirim ke TPA hanya sampah residu,” jelas Syamsuddin.

Ke depan, pihaknya juga tengah menyiapkan program “emberisasi”, yakni penyediaan ember khusus sampah organik di rumah-rumah warga. Setiap sore, sampah organik tersebut akan dikumpulkan menggunakan gerobak yang dikelola oleh pemuda bank sampah sebelum diolah.

Menurut Syamsuddin, sistem tersebut mulai dijalankan sejak Mei 2026. Meski belum banyak dipublikasikan, berbagai aktivitas pengelolaan sampah rutin diunggah melalui media sosial yang dikelola anak-anak muda bank sampah RW 04 sebagai sarana edukasi kepada masyarakat.

Yayasan Peduli Negeri sendiri telah bergerak di bidang lingkungan sejak 2008. Di Karunrung, yayasan memilih berkolaborasi dengan pemuda dan pengurus RT/RW agar program lebih mudah diterima masyarakat.

“Kami sengaja membangun pengolahan sampah di tengah permukiman agar masyarakat melihat langsung bahwa sampah yang dikelola dengan benar tidak identik dengan bau. Ini juga menjadi media edukasi bahwa sampah bisa diolah dengan baik,” katanya.

Meski demikian, membangun pusat pengolahan sampah di lingkungan permukiman bukan tanpa tantangan. Keterbatasan lahan menjadi kendala utama, disusul masih adanya anggapan bahwa pengolahan sampah pasti menimbulkan bau.

Selain itu, masih ada sebagian masyarakat yang berpandangan bahwa urusan sampah sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah.
Syamsuddin menilai pola pikir tersebut harus diubah.

“Sampah bukan hanya urusan pemerintah. Sampah adalah tanggung jawab kita semua karena kita semua adalah penghasil sampah. Prinsip kami sederhana, sampahku adalah tanggung jawabku. Kalau semua mau terlibat, persoalan sampah akan jauh lebih mudah diselesaikan,” tegasnya.

Pendekatan itu mulai menunjukkan hasil. Selain lingkungan menjadi lebih bersih, berbagai produk hasil pengolahan sampah telah memberikan nilai ekonomi bagi warga.

Pupuk organik yang dihasilkan dari teba telah dipasarkan, sementara maggot dijual ke Bank Sampah Pusat dengan harga sekitar Rp8.000 per kilogram. Yayasan juga membentuk UMKM MAPANG 04 yang fokus mengembangkan produk berbasis sampah organik sebagai bagian dari ekonomi sirkular di tingkat masyarakat.

Untuk sampah anorganik, sistem tabungan bank sampah kini telah memiliki sekitar 60 nasabah. Setiap penimbangan mampu mengumpulkan sekitar 50 kilogram sampah plastik dan hingga 70 kilogram kardus atau kertas yang kemudian dijual kembali.

Yang menarik, tabungan hasil penjualan sampah tidak harus langsung dicairkan. Dana tersebut dapat digunakan warga untuk berbagai kebutuhan, termasuk membayar retribusi persampahan.

“Inilah yang ingin kami bangun. Sampah bukan lagi dianggap barang buangan, tetapi memiliki nilai ekonomi yang bisa kembali kepada masyarakat,” ujar Syamsuddin.

Untuk meningkatkan kapasitas pengolahan, Yayasan Peduli Negeri juga melengkapi fasilitas dengan mesin pencacah sampah organik yang mempercepat proses pengomposan dan budidaya maggot, serta biodigester yang sedang dipersiapkan untuk menghasilkan biogas.

Ke depan, Yayasan Peduli Negeri berharap model pengelolaan sampah terpadu di RW 04 Karunrung dapat terus berkembang, sekaligus menjadi contoh bagi kawasan lain di Makassar.

Menurut Syamsuddin, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau fasilitas, melainkan oleh kemauan masyarakat untuk berubah.

“Kalau pemerintah, masyarakat, pemuda, dan NGO berjalan bersama, maka persoalan sampah bukan lagi menjadi beban, tetapi bisa menjadi peluang yang memberikan manfaat bagi lingkungan maupun ekonomi warga,” pungkasnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *