Tomas Manggala: Pilah Sampah dari Rumah Adalah Bentuk Gotong Royong Menjaga Kebersihan

BERITAINEWS MAKASSAR —Dukungan terhadap program pemilahan sampah dari sumber rumah tangga yang digalakkan Pemerintah Kota Makassar terus menguat di akar rumpun.

Bacaan Lainnya

Kali ini datang dari tokoh masyarakat (Tomas) Kecamatan Manggala, H. Sikki, yang mengajak seluruh warga berpartisipasi aktif memilah sampah sebagai langkah nyata mengatasi persoalan persampahan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

“Sudah saatnya seluruh masyarakat Makassar bersama-sama mendukung program pilah sampah dari rumah. Ini bagian dari tugas bersama dan kesadaran menjaga lingkungan,” imbuh dia, Rabu (5/8/2026).

Menurut H. Sikki, gerakan memilah sampah bukan lagi sekadar imbauan, melainkan kebutuhan bersama yang harus menjadi budaya di tengah masyarakat.

Ia menilai persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh warga.

“Langkah sederhana ini memiliki dampak besar dalam mengurangi pencemaran lingkungan dan membantu pemerintah mengatasi persoalan sampah,” katanya.

Dia menjelaskan, kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah harus dimulai dari lingkungan keluarga.

Dengan memisahkan sampah organik, anorganik, dan residu sejak dari rumah, proses pengolahan sampah akan menjadi lebih mudah sekaligus mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

H. Sikki mengungkapkan, upaya pemilahan sampah di wilayah Kecamatan Manggala sebenarnya bukan hal baru.

Menurutnya, gerakan tersebut telah mulai diterapkan sekitar tiga bulan lalu sebagai bentuk kesiapan masyarakat menghadapi kebijakan pengelolaan sampah yang kini diberlakukan Pemerintah Kota Makassar.

“Program ini bukan hal baru bagi kami. Sekitar tiga bulan yang lalu sudah mulai dilakukan. Tinggal bagaimana kesadaran masyarakat terus ditingkatkan agar menjadi kebiasaan sehari-hari,” jelasnya.

Ia menilai, tantangan terbesar bukan terletak pada teknis pemilahan sampah, melainkan membangun kebiasaan masyarakat agar disiplin dan konsisten menjalankannya setiap hari.

Karena itu, edukasi dan sosialisasi dinilai harus terus dilakukan oleh pemerintah bersama para ketua RT/RW, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan seluruh elemen warga agar budaya memilah sampah semakin mengakar.

Menurut H. Sikki, apabila seluruh masyarakat memiliki kesadaran yang sama, maka persoalan sampah di Makassar akan jauh lebih mudah diatasi.

Selain mengurangi beban TPA, pemilahan sampah juga membuka peluang meningkatnya aktivitas daur ulang serta memberikan nilai ekonomi bagi sampah yang masih memiliki manfaat.

“Kalau semua warga ikut memilah sampah dari rumah, beban pengelolaan sampah akan jauh lebih ringan. Ini adalah bentuk gotong royong kita untuk menyelamatkan Kota Makassar dari ancaman krisis lingkungan,” ungkapnya.

Dia menambahkan, menjaga kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, setiap warga diharapkan tidak lagi membuang sampah secara sembarangan ataupun mencampurkan seluruh jenis sampah dalam satu wadah.

Ditambahkan, perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Kebiasaan memilah sampah di rumah diyakini akan memberikan dampak positif bagi kesehatan lingkungan, mengurangi pencemaran, serta menciptakan kawasan permukiman yang lebih bersih dan nyaman.

“Mari kita mulai dari rumah masing-masing. Jangan menunggu orang lain. Lingkungan yang bersih adalah tanggung jawab kita bersama, dan masa depan Kota Makassar bergantung pada kesadaran masyarakat hari ini,” tuturnya.

H. Sikki berharap semangat gotong royong yang selama ini menjadi budaya masyarakat Makassar dapat menjadi kekuatan dalam menyukseskan gerakan pemilahan sampah dari sumber.

“Dengan dukungan seluruh lapisan masyarakat, program pemilahan sampah bisa menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif,” harapnya.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *