Korban Tawuran Tallo Tewas Tertembak, Propam Periksa 7 Polisi dan Kapolsek

BERITAINEWS MAKASSAR —Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan masih menyelidiki kasus tewasnya seorang peserta tawuran di wilayah Kecamatan Tallo, Kota Makassar. Penyidikan dilakukan untuk mengungkap penyebab kematian korban serta memastikan sumber proyektil yang menyebabkan luka fatal.

Bacaan Lainnya

Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto mengatakan, Propam Polda Sulsel telah memeriksa tujuh anggota polisi yang bertugas saat peristiwa tawuran terjadi. Pemeriksaan juga dilakukan terhadap Kapolsek terkait. (Senin, 28 /9/26)

“Dari Propam sudah melakukan pemeriksaan terhadap tujuh anggota yang pada saat itu melaksanakan tugas, termasuk juga Kapolsek,” kata Didik.

Selain memeriksa personel kepolisian, penyidik juga berencana meminta keterangan sejumlah masyarakat yang mengetahui atau melihat langsung peristiwa tersebut.

Hingga saat ini, sedikitnya tujuh orang telah diperiksa sebagai saksi. Mereka berasal dari unsur kepolisian maupun masyarakat yang berada di sekitar lokasi kejadian.

Didik menjelaskan, hasil autopsi terhadap korban bernama Rafli telah selesai dilakukan. Dari hasil pemeriksaan forensik ditemukan luka pada bagian punggung sebelah kiri, tepatnya di sekitar tulang rusuk ketiga, dengan arah luka menuju ke sebelah kanan.

“Dari hasil itu diketahui ada luka di bagian punggung atau di sebelah kiri, di rusuk yang ketiga kalau tidak salah, kemudian mengarah ke sebelah kanan. Nah, itulah sebab kematian dari Saudara Rafli,” ujarnya.

Meski hasil autopsi telah diketahui, polisi masih menunggu hasil uji balistik untuk memastikan jenis dan ukuran proyektil yang menyebabkan korban meninggal dunia.

“Nanti akan ada uji balistik. Nah, ini yang kita tunggu uji balistiknya. Apakah jenis ukurannya, milimeternya berapa, peluru tajam atau peluru karet atau jenis lain, nanti akan ketahuan di situ,” jelas Didik.

Menurutnya, proses hukum dalam kasus kematian korban tetap berjalan. Di sisi lain, kepolisian juga melanjutkan penyelidikan terkait aksi pengerusakan dan pembakaran Pos Pengamanan Mitigasi yang terjadi dalam rangkaian keributan tersebut.

Didik mengatakan, korban merupakan peserta tawuran. Korban baru diketahui meninggal dunia beberapa jam setelah kejadian dan sempat berada di Rumah Sakit Angkatan Laut sebelum kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar.

“Sekitar jam 4 itu baru diketahui ada korban meninggal dunia dan sudah berada di rumah sakit Angkatan Laut. Dari sana kemudian kita geser ke Rumah Sakit Bhayangkara, sekitar jam 6 sampai sana ditindaklanjuti dengan visum,” katanya.

Setelah mendapat persetujuan keluarga, jenazah kemudian menjalani autopsi. Hasil autopsi telah diserahkan dan korban selanjutnya dimakamkan.

Sementara itu, polisi juga meningkatkan pengamanan di sejumlah wilayah yang dianggap rawan tawuran.

Langkah tersebut dilakukan setelah kembali terjadi keributan antarkelompok pada malam sebelumnya. Keributan terjadi tidak persis di lokasi kejadian utama, namun berada sekitar 500 meter dari lokasi.

“Sudah berhasil juga dibubarkan oleh pihak kepolisian yang dipimpin oleh Kapolres Tabes Makassar,” kata Didik.

Untuk mencegah terjadinya tawuran susulan, personel Polda Sulsel juga telah melakukan backup terhadap sejumlah Polsek di sekitar wilayah yang dinilai rawan.

Selain penempatan personel, kepolisian meningkatkan patroli serta melakukan penggalangan melalui fungsi intelijen dan Bhabinkamtibmas.

Terkait kerusakan Pos Pengamanan Mitigasi yang dibakar dan dilempari, Didik menyebut kerugian material masih dalam tahap penghitungan.

“Yang jelas itu masih kemarin adalah rusak karena dibakar kemudian juga ada pelemparan,” ujarnya.

Sementara itu, belum ada pelaku yang diamankan terkait aksi pengerusakan tersebut. Polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi para pelaku.

Didik menyebut, saat kelompok tersebut mendatangi lokasi, jumlah personel kepolisian jauh lebih sedikit dibandingkan massa yang datang.

“Pada saat mereka datang, kita jumlah lima orang, kemudian mereka ada sekitar 100,” katanya.

Polda Sulsel memastikan penyelidikan terhadap kasus kematian Rafli, dugaan penggunaan proyektil, serta pengerusakan Pos Pengamanan Mitigasi masih berlangsung. Hasil uji balistik nantinya akan menjadi bagian penting dalam proses penyidikan untuk mengungkap jenis proyektil yang digunakan dalam peristiwa tersebut. (Bas)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *