BERITAINEWS MAKASSAR —Aksi demonstrasi memperingati dua tahun kepemimpinan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka di depan Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Selasa (20/10/2026), berujung ricuh setelah massa aksi membubarkan diri.
Kepala Subdirektorat Humas dan Dokumentasi, Direktorat Komunikasi/Sekretariat Rektor Universitas Hasanuddin, Ishaq Rahman, menjelaskan, mahasiswa sebelumnya menggelar orasi di jalan raya depan Pintu 1 Unhas. Aksi tersebut sempat menyebabkan kemacetan, tetapi berlangsung damai hingga mahasiswa membubarkan diri sekitar pukul 17.30 WITA.
Namun, situasi berubah sekitar pukul 18.30 WITA. Menurut Ishaq, masih ada kelompok massa sekitar 30 orang yang berkumpul di sekitar Pintu 1 kampus. Kelompok tersebut diduga melakukan provokasi dengan merusak fasilitas kampus dan membakar sejumlah objek, termasuk satu unit motor listrik WesGo Unhas.
Kericuhan kemudian berlanjut hingga ke dalam area kampus. Sebuah video yang beredar memperlihatkan ketegangan antara petugas keamanan kampus dan sekelompok orang di sekitar Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Unhas. Dalam video tersebut, terlihat aksi saling pukul saat sekelompok orang mengejar seorang Mahasiswa di area kampus.
Peristiwa itu memunculkan pertanyaan mengenai dugaan keterlibatan pihak luar atau preman dalam insiden tersebut, termasuk tudingan adanya petugas keamanan yang memukul dan menganiaya mahasiswa.
Menanggapi hal itu, Ishaq memberikan penjelasan mengenai kronologi yang melatarbelakangi insiden di area PKM.
Menurutnya, ketika petugas keamanan kampus berupaya meminta kelompok massa membubarkan diri, mereka justru mendapat serangan balik. Salah seorang petugas keamanan bahkan disebut sempat dianiaya oleh kelompok tersebut.
Petugas keamanan itu diketahui tinggal di kawasan Kampung Kera-kera, yang berada di sekitar kampus Unhas.
Kabar mengenai penganiayaan tersebut kemudian sampai kepada keluarganya. Tidak terima dengan kejadian yang menimpa anggota keluarga mereka, sejumlah orang mendatangi kampus untuk mencari pelaku.
Ishaq menegaskan, kelompok yang terlihat terlibat dalam ketegangan di sekitar PKM tersebut, menurut penjelasan pihaknya, merupakan keluarga petugas keamanan kampus yang sebelumnya dianiaya, bukan kelompok preman sebagaimana dugaan yang beredar.
“Dalam suasana chaos seperti tadi, memang selalu ada hal-hal di luar kendali. Kita berusaha mengendalikan petugas keamanan kampus agar menahan diri. Tapi rupanya keluarganya yang tidak terima dan mengambil tindakan sendiri,” jelas Ishaq.
Ia mengakui, situasi yang berkembang di lapangan sulit sepenuhnya dikendalikan. Pihak kampus, kata dia, telah berupaya agar petugas keamanan tidak terpancing melakukan tindakan di luar kendali.
Ishaq juga menyoroti upaya kampus untuk menjaga agar aparat keamanan tidak perlu masuk ke dalam lingkungan kampus dalam menangani kericuhan tersebut.
Padahal, menurut keterangannya, terdapat pula anggota Polda yang sempat menjadi korban penganiayaan oleh kelompok pengunjuk rasa.
Di tengah situasi tersebut, Ishaq membenarkan bahwa satu orang telah diserahkan kepada Polrestabes Makassar.
Penyerahan tersebut menjadi bagian dari penanganan insiden yang terjadi setelah aksi demonstrasi di depan Kampus Unhas. (bn).







