Meramalkan Masa Depan Indonesia dari Cara Kita Memilah Sampah

BERITAINEWS MAKASSAR —Ada cara sederhana untuk membaca masa depan sebuah bangsa: lihat bagaimana bangsa itu memperlakukan sampahnya.

Bacaan Lainnya

Jangan terburu-buru membaca masa depan Indonesia hanya dari angka pertumbuhan ekonomi, investasi, pembangunan jalan tol, gedung pencakar langit, atau pidato tentang Indonesia Emas. Sesekali, lihatlah tong sampah di depan rumah.

Di sanalah masa depan sedang dibuang—atau sedang dipilah.

Sebab sampah bukan sekadar benda yang tidak lagi kita inginkan. Sampah adalah semacam biografi material manusia. Ia mencatat apa yang kita makan, apa yang kita beli, seberapa rakus kita mengonsumsi, dan sejauh mana kita bersedia bertanggung jawab setelah barang kehilangan nilai ekonominya bagi kita.

Karena itu, memilah sampah sebenarnya bukan pekerjaan tukang kebersihan.

Ia pekerjaan peradaban.

Ketika seseorang memisahkan kulit pisang dari botol plastik, ia sedang mengatakan sesuatu yang sangat sederhana tetapi penting: setiap benda memiliki nasib yang berbeda dan setiap konsumsi memiliki konsekuensi.

Kita sedang belajar bertanggung jawab.

Dan dari kebiasaan kecil semacam itulah gagasan besar seperti Indonesia Asri memperoleh maknanya.

Indonesia Asri tidak semestinya berhenti sebagai slogan tentang lingkungan yang bersih, hijau, indah, dan nyaman. Ia harus menjadi perubahan cara pandang: dari bangsa yang terbiasa membuang menjadi bangsa yang belajar mengelola; dari ekonomi yang mengambil-menggunakan-membuang menjadi ekonomi yang memulihkan dan menggunakan kembali; dari manusia yang merasa sebagai pemilik alam menjadi manusia yang sadar bahwa dirinya adalah bagian dari ekosistem.

Tong Sampah sebagai Cermin Moral

Ada kebiasaan kita yang agak ajaib.

Ketika barang berada di toko, ia disebut produk.

Setelah dibeli, ia menjadi milik kita.

Setelah digunakan, ia berubah menjadi sampah.

Dan ketika sampah keluar dari pagar rumah, tanggung jawab moral kita seolah ikut keluar bersamanya.

Kita menyerahkannya kepada petugas.

Petugas menyerahkannya kepada armada.

Armada membawanya ke tempat pembuangan.

Lalu kita merasa masalah selesai.

Padahal sampah tidak pernah benar-benar selesai.

Ia hanya berpindah tempat.

Dari rumah ke jalan.

Dari jalan ke TPS.

Dari TPS ke truk.

Dari truk ke TPA.

Dan dari TPA, persoalan dapat kembali kepada kita melalui udara, air, tanah, kesehatan, biaya publik, bahkan perubahan iklim.

Begitulah rantai konsumsi yang selama ini kita bangun: kita menikmati barangnya, orang lain mengelola sampahnya, dan lingkungan membayar tagihannya.

Di sinilah etika lingkungan dimulai.

Pertanyaan ekologis yang paling penting bukan hanya: “Bagaimana membuang sampah?”

Tetapi:

“Mengapa saya menghasilkan sampah sebanyak ini?”

Pertanyaan kedua lebih mengganggu. Karena ia memaksa kita memeriksa gaya hidup sendiri.

Indonesia Asri Dimulai dari Dapur

Kita sering membayangkan program lingkungan sebagai sesuatu yang besar: penghijauan, taman kota, rehabilitasi sungai, penanaman mangrove, kendaraan listrik, energi terbarukan, dan teknologi pengolahan sampah.

Semua penting.

Tetapi ada satu tempat yang sering terlupakan: dapur rumah tangga.

Padahal di dapurlah pertarungan ekologis paling nyata berlangsung setiap hari.

Kulit buah dibuang bersama plastik.

Sisa nasi bercampur popok.

Daun kering bercampur botol.

Sisa makanan bercampur limbah lain.

Kemudian semuanya dikirim ke tempat yang sama.

Kita menyebutnya pengelolaan sampah.

Padahal kadang-kadang yang kita lakukan hanyalah memindahkan sampah dengan lebih terorganisasi.

Indonesia Asri membutuhkan lebih dari sekadar kota yang tampak bersih.

Kita membutuhkan Indonesia yang menghasilkan lebih sedikit sampah dan mampu mengolah sampah yang dihasilkan.

Di sinilah pemilahan dari sumber menjadi penting.

Sampah organik harus dipandang sebagai bahan baku biologis.

Sampah anorganik yang masih bernilai harus masuk ke rantai pemanfaatan.

Material yang tidak dapat digunakan kembali harus dikelola secara aman.

Dan residu harus menjadi bagian paling kecil dari sistem.

Kalau semua dicampur sejak rumah, maka kita sudah menghilangkan sebagian besar peluang ekonomi dan ekologinya.

Pertobatan Ekologis Masuk ke Rumah

Pertobatan biasanya dibayangkan sebagai perubahan batin.

Namun krisis ekologis memerlukan pertobatan yang terlihat.

Ia harus masuk ke dapur.

Masuk ke pasar.

Masuk ke sekolah.

Masuk ke hotel.

Masuk ke kantor.

Masuk ke kebijakan pemerintah.

Dan tentu saja masuk ke cara kita berbelanja.

Pertobatan ekologis berarti kita mulai menyadari bahwa bumi bukan gudang tanpa batas.

Sungai bukan selokan raksasa.

Laut bukan tempat sampah nasional.

Hutan bukan mesin uang.

Dan TPA bukan lubang hitam yang dapat menelan kerakusan konsumsi selama-lamanya.

Pertobatan ekologis juga berarti kita bersedia mengurangi kenyamanan yang sebenarnya tidak perlu.

Membeli karena membutuhkan, bukan karena tergoda.

Menggunakan barang selama mungkin.

Memperbaiki sebelum mengganti.

Menggunakan kembali sebelum membuang.

Dan memilah sebelum menyerahkan kepada sistem pengelolaan sampah.

Barangkali ukuran kesalehan ekologis manusia modern bukan hanya seberapa banyak ia berbicara tentang mencintai bumi.

Tetapi seberapa sedikit ia memaksa bumi membayar gaya hidupnya.

Ekonomi Sirkular: Sampah yang Tidak Selesai di TPA

Di sinilah ekonomi sirkular menemukan relevansinya.

Ekonomi linear bekerja dengan rumus yang sangat sederhana:

ambil—produksi—konsumsi—buang.

Alam diposisikan sebagai gudang bahan baku sekaligus tempat pembuangan.

Ekonomi sirkular mencoba memutus kebiasaan itu:

kurangi—gunakan kembali—perbaiki—pulihkan—daur ulang.

Dalam paradigma ini, sampah bukan akhir dari sebuah produk.

Ia adalah awal dari perjalanan material berikutnya.

Kulit buah bisa menjadi kompos atau eco-enzyme.

Sisa makanan bisa menjadi bahan biodigester.

Daun dan bahan organik dapat kembali menjadi nutrisi tanah.

Plastik bernilai dapat masuk ke rantai daur ulang.

Barang bekas dapat diperbaiki atau digunakan kembali.

Dengan demikian, pemilahan sampah bukan sekadar aktivitas lingkungan.

Ia adalah aktivitas ekonomi.

Bayangkan jika setiap rumah tangga tidak lagi melihat sampah organik sebagai sesuatu yang harus dibayar untuk diangkut, tetapi sebagai bahan baku pupuk, energi, atau produk ekologis.

Bayangkan jika petugas kebersihan tidak hanya menjadi pengangkut sampah, tetapi menjadi pekerja ekonomi sirkular.

Bayangkan jika bank sampah tidak hanya menjadi tempat menabung botol, tetapi menjadi pusat perdagangan material.

Di titik itu, Indonesia Asri tidak lagi sekadar urusan estetika.

Ia menjadi urusan kedaulatan ekonomi.

Makassar: Sebuah Laboratorium Kota

Kota Makassar menarik untuk dijadikan contoh.

Sebagai kota besar dengan aktivitas perdagangan, jasa, kuliner, permukiman, perhotelan, pasar, dan mobilitas penduduk yang tinggi, Makassar menghadapi persoalan sampah yang juga kompleks.

Tetapi justru kota seperti Makassar dapat menjadi laboratorium penting bagi masa depan pengelolaan sampah Indonesia.

Mengapa?

Karena persoalan yang besar memaksa kita berhenti berpikir kecil.

Makassar tidak cukup hanya mengangkut sampah lebih cepat.

Makassar harus mengurangi sampah dari sumbernya.

Tidak cukup hanya memperbaiki TPA.

Kota harus memastikan semakin sedikit sampah yang membutuhkan TPA.

Tidak cukup mengajak masyarakat membuang sampah pada tempatnya.

Masyarakat harus diajak memilah, mengolah, dan mendapatkan manfaat ekonomi dari sampah.

Gerakan seperti pengolahan sampah organik berbasis rumah tangga, bank sampah, komposting, eco-enzyme, biodigester, teba modern, urban farming, dan berbagai inovasi komunitas menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat bergerak dari pendekatan end of pipe menuju pendekatan berbasis sumber.

Di sinilah berbagai inisiatif masyarakat di Makassar menemukan konteksnya.

Gerakan lingkungan tidak lagi harus menunggu proyek besar.

Ia dapat dimulai dari rumah.

Dari RT.

Dari kelurahan.

Dari sekolah.

Dari pasar.

Dari hotel.

Dari komunitas.

Kota kemudian bertindak sebagai penghubung yang membuat semua gerakan kecil tersebut menjadi sistem.

Makassar dengan agenda Makassar Bebas Sampah 2029 memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa kota besar tidak harus memilih antara pertumbuhan ekonomi dan lingkungan.

Keduanya justru dapat dipertemukan melalui ekonomi sirkular.

Program urban farming seperti Tanami Tanata’, misalnya, akan jauh lebih kuat jika terhubung dengan pengolahan sampah organik. Sisa makanan tidak berakhir sebagai beban, tetapi dikembalikan menjadi kompos, nutrisi, atau bahan pendukung produksi pangan kota.

Di sinilah sampah bertemu pangan.

Sampah bertemu tanah.

Tanah bertemu tanaman.

Tanaman bertemu pangan.

Dan pangan kembali menghasilkan bahan organik.

Lingkaran kehidupan bertemu lingkaran ekonomi.

Itulah ekonomi sirkular dalam bentuk paling sederhana.

Keadilan Ekologis: Siapa yang Membayar?

Ada pertanyaan yang jarang kita ajukan:

Siapa sebenarnya yang membayar sampah kita?

Kita membeli makanan dalam kemasan.

Kita menikmati barang murah sekali pakai.

Kita menggunakan produk praktis.

Tetapi ketika semuanya menjadi sampah, biaya sosialnya sering dibayar oleh pihak lain.

Masyarakat di sekitar fasilitas pengelolaan sampah menanggung dampaknya.

Petugas kebersihan bekerja di garis depan.

Pemerintah mengeluarkan anggaran.

Lingkungan menerima pencemaran.

Dan generasi berikutnya mewarisi konsekuensinya.

Itulah ketidakadilan ekologis.

Karena itu, pemilahan sampah juga merupakan bentuk keadilan antargenerasi.

Kita tidak berhak menghabiskan kapasitas ekologis bumi hari ini lalu menyerahkan tagihannya kepada anak-anak kita.

Indonesia Asri harus berarti Indonesia yang tidak hanya nyaman ditinggali oleh generasi sekarang, tetapi juga layak diwariskan kepada generasi berikutnya.

Ramalan dari Sebuah Kantong Sampah

Saya memiliki sebuah ramalan sederhana.

Masa depan Indonesia dapat dibaca dari kantong sampah di rumah-rumah kita.

Jika semuanya masih bercampur, masa depan kita juga akan terus bercampur: antara sampah dan sumber daya, antara biaya dan manfaat, antara tanggung jawab pribadi dan kewajiban pemerintah.

Tetapi jika kita mulai memilah, sesuatu yang lebih besar sedang terjadi.

Satu rumah memilah.

Satu RT mengolah.

Satu kelurahan mengurangi.

Satu kecamatan membangun ekonomi sirkular.

Satu kota mengubah sistem.

Lalu sebuah bangsa berubah.

Karena itu, Indonesia Asri seharusnya tidak hanya dibaca sebagai proyek pemerintah.

Ia harus menjadi kontrak moral antara manusia dan lingkungan.

Pemerintah menyediakan sistem.

Dunia usaha memperbaiki rantai produksi.

Masyarakat mengubah perilaku.

Komunitas menciptakan inovasi.

Dan setiap rumah tangga mengambil kembali tanggung jawab ekologis yang selama ini kita lemparkan ke luar pagar.

Sebab negara tidak akan pernah benar-benar bersih jika rumah-rumahnya terus memproduksi sampah tanpa tanggung jawab.

Kota tidak akan pernah benar-benar asri jika keasrian hanya diciptakan melalui penyapuan jalan, sementara sampah terus diproduksi dan dicampur dari sumbernya.

Dan Indonesia tidak akan benar-benar hijau jika kehijauan hanya menjadi warna spanduk.

Indonesia Asri harus menjadi cara hidup.

Pada akhirnya, masa depan Indonesia mungkin tidak sedang ditentukan oleh sesuatu yang spektakuler.

Ia sedang ditentukan oleh keputusan kecil ketika kita berdiri di depan dua atau tiga tempat sampah.

Mencampur atau memilah.

Membuang atau mengolah.

Menghabiskan atau menghemat.

Mengambil dari bumi atau mengembalikan kepada bumi.

Pilihan itu terlihat kecil.

Tetapi dilakukan oleh jutaan manusia, ia menjadi politik.

Dilakukan setiap hari, ia menjadi kebudayaan.

Dilakukan lintas generasi, ia menjadi peradaban.

Maka jangan remehkan orang yang memisahkan kulit pisang dari plastik.

Barangkali ia sedang melakukan pekerjaan yang jauh lebih besar daripada yang tampak.

Ia sedang mengajarkan kepada anaknya bahwa sampah punya nasib.

Ia sedang mengajarkan kepada tetangganya bahwa konsumsi punya konsekuensi.

Ia sedang mengajarkan kepada pemerintah bahwa warga siap berubah.

Dan ia sedang memberi tahu bumi:

“Kami mulai belajar bertanggung jawab.”

Itulah mungkin ramalan paling masuk akal tentang masa depan Indonesia.

Bukan Indonesia yang sekadar bebas sampah di jalan.

Bukan Indonesia yang sekadar tampak hijau dari udara.

Tetapi Indonesia yang memahami bahwa keasrian adalah hasil dari etika, ekonomi, kebijakan, dan pertobatan ekologis yang bertemu dalam tindakan sehari-hari.

Makassar dapat menjadi salah satu panggung pembuktiannya.

Dari rumah-rumah yang memilah.

Dari kampung-kampung yang mengolah.

Dari petugas yang berubah menjadi pahlawan sirkular.

Dari sampah organik yang kembali menjadi kehidupan.

Dari plastik yang kembali menjadi bahan baku.

Dari tanah yang kembali subur.

Dan dari warga yang akhirnya memahami satu kalimat sederhana:

sampah yang kita buang hari ini adalah surat yang kita kirim kepada masa depan.

Pertanyaannya, apakah kita ingin anak cucu kita membacanya sebagai surat cinta—atau surat utang?

*Mashud Azikin*

Pemerhati Persampahan Kota Makassar, Pegiat Ecoenzym

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *