BERITAINEWS MAKASSAR —Polisi mengungkap fakta di balik laporan dugaan penculikan seorang mahasiswa berinisial EE (19) di Kota Makassar. Laporan yang awalnya menyebut korban disekap dan diancam akan dibunuh ternyata merupakan skenario yang dibuat sendiri oleh korban.
Kanit Jatanras Satreskrim Polrestabes Makassar AKP Sangkala mengatakan, kasus tersebut bermula ketika ayah EE mendatangi Reserse Kriminal Polrestabes Makassar pada 7 Agustus 2026. Ia melaporkan dugaan penculikan terhadap anaknya.
Dalam laporan tersebut, sang ayah menerima informasi bahwa anaknya disebut telah diculik dan disekap. Pelaku juga mengancam akan membunuh korban serta meminta uang tebusan sebesar Rp90 juta.
Menindaklanjuti laporan tersebut, jajaran Jatanras Satreskrim Polrestabes Makassar kemudian melakukan serangkaian penyelidikan atas perintah Kasat Reskrim.
Hasilnya, polisi berhasil menemukan EE yang sebelumnya disebut sebagai korban penculikan.
Namun, setelah dilakukan pendalaman dan interogasi, polisi menemukan fakta bahwa tidak pernah terjadi penculikan maupun penyekapan terhadap mahasiswa tersebut.
“Dari hasil penyelidikan dan interogasi ditemukan fakta bahwa tidak ada peristiwa penculikan atau penyekapan,” kata AKP Sangkala, Kamis (13/8/2026).
Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk telepon seluler. Dari pemeriksaan tersebut, penyidik menemukan adanya skenario yang sengaja dibuat oleh EE.
EE diduga menggunakan telepon seluler lain untuk menghubungi ayahnya dan menciptakan seolah-olah dirinya telah diculik. Dalam skenario tersebut, ayahnya kemudian diminta menyiapkan uang tebusan Rp90 juta.
Menurut polisi, motif sementara aksi tersebut berkaitan dengan kebutuhan uang. EE disebut membutuhkan dana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan keperluan pergaulannya.
Namun, kebutuhan tersebut diduga tidak dapat dipenuhi oleh orang tuanya sehingga EE memilih membuat skenario penculikan untuk mendapatkan uang dari sang ayah.
“Anak ini meminta atau membutuhkan dana atau uang untuk kegiatan atau kebutuhan sehari-hari untuk pergaulannya. Mungkin tidak bisa dipenuhi oleh orang tua sehingga menggunakan cara seperti itu untuk meminta uang dari orang tua,” ujar Sangkala.
Polisi juga mendalami kemungkinan adanya keterkaitan dengan aktivitas judi atau permainan daring. Namun, hingga saat ini penyidik belum menemukan petunjuk yang mengarah ke hal tersebut.
Dari hasil pendalaman, EE diketahui merupakan mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Makassar. Ia tinggal di rumah kos dengan biaya sekitar Rp2 juta per bulan.
Sementara ayah EE diketahui bekerja sebagai karyawan swasta.
Polisi masih melakukan pendalaman terhadap kasus tersebut, termasuk kemungkinan adanya konsekuensi hukum atas laporan dan skenario penculikan yang ternyata tidak pernah terjadi. (bas)







