BERITAINEWS MAKASSAR —Di sebuah lorong sempit di Kota Makassar, seorang ibu rumah tangga meletakkan dua ember bekas di sudut dapurnya. Ember pertama diisi kulit buah dan sisa sayur. Ember kedua menampung botol plastik, kardus, dan kaleng minuman. Tidak ada tong sampah mahal. Tidak ada label berwarna mencolok. Hanya dua wadah sederhana yang lahir dari kesadaran bahwa sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang, melainkan sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan.
Di lorong lain, perdebatan justru lebih riuh daripada bunyi gerobak sampah. Ketika Pemerintah meluncurkan gerakan “Sampahmu Tanggung Jawabmu” dan mewajibkan pemilahan sampah dari rumah, sebagian warga menganggapnya sebagai bentuk pengalihan tanggung jawab negara. Mereka merasa telah membayar retribusi kebersihan. Mengapa kini masih harus memilah sampah sendiri?
Sekilas, pertanyaan itu terdengar masuk akal. Namun, bila direnungkan lebih dalam, ia sesungguhnya lahir dari cara pandang lama yang melihat hubungan antara warga dan negara semata-mata sebagai hubungan transaksi. Seolah-olah setiap rupiah retribusi yang dibayarkan telah membeli hak untuk tidak lagi peduli terhadap apa yang dibuang.
Padahal, retribusi kebersihan bukanlah tiket yang membebaskan seseorang dari tanggung jawab moral terhadap lingkungan.
Retribusi adalah biaya logistik. Ia membayar perjalanan truk, operasional petugas, bahan bakar kendaraan, dan pengelolaan fasilitas. Retribusi tidak pernah dirancang sebagai izin untuk mencampur sisa makanan, baterai bekas, popok sekali pakai, plastik, hingga limbah berbahaya ke dalam satu kantong hitam yang sama.
Di sinilah letak kekeliruan yang sering luput disadari. Kita kerap menyamakan pelayanan publik dengan jasa cuci kendaraan. Setelah membayar, kita merasa seluruh urusan selesai. Sampah menjadi masalah pemerintah, bukan lagi masalah kita.
Padahal, lingkungan tidak bekerja dengan logika kuitansi.
Alam tidak mengenal istilah “sudah bayar”. Sungai tetap tercemar ketika limbah rumah tangga bercampur. Tanah tetap rusak ketika sampah organik dan anorganik menyatu. Udara tetap mengandung gas metana ketika gunungan sampah terus membusuk tanpa pemilahan.
Krisis sampah selalu dimulai dari rumah, bukan dari tempat pembuangan akhir.
Karena itu, memisahkan sampah sejak dari sumber bukanlah pemindahan pekerjaan pemerintah kepada rakyat. Ia justru pembagian tanggung jawab yang paling rasional dalam tata kelola lingkungan modern.
Di banyak kota maju di dunia, pemilahan sampah telah menjadi bagian dari etika kewargaan. Orang memilah bukan karena takut didenda, melainkan karena memahami bahwa setiap benda yang dibuang masih memiliki masa depan yang berbeda.
Sisa makanan dapat menjadi kompos.
Botol plastik dapat didaur ulang.
Kertas dapat kembali menjadi bahan baku.
Limbah berbahaya harus diperlakukan secara khusus.
Ketika semuanya dicampur, seluruh nilai itu ikut terkubur.
—
Ada pula yang berpendapat bahwa kebijakan ini memberatkan masyarakat kecil karena harus membeli empat tong sampah.
Argumen itu terdengar dramatis, tetapi tidak sepenuhnya berpijak pada kenyataan.
Di lorong-lorong Makassar, inovasi justru lahir dari kesederhanaan. Karung beras bekas, ember cat, kardus, hingga keranjang plastik yang sudah retak, semuanya bisa menjelma menjadi wadah pemilahan. Kesadaran ekologis tidak pernah ditentukan oleh mahalnya fasilitas, melainkan oleh kemauan untuk mengubah kebiasaan.
Yang lebih menarik, pemilahan justru membuka pintu ekonomi bagi keluarga prasejahtera.
Botol plastik yang bersih memiliki harga lebih tinggi daripada botol yang tercampur sisa makanan. Kardus kering lebih bernilai daripada kardus yang basah oleh kuah dapur. Kaleng minuman yang dipisahkan sejak awal menjadi aset, bukan beban.
Melalui Bank Sampah di tingkat RT dan RW, banyak keluarga memperoleh tambahan penghasilan dari sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
Di titik ini, sampah berubah makna. Ia bukan lagi akhir dari sebuah benda, melainkan awal dari nilai ekonomi baru.
Karena itu, sulit mengatakan bahwa kebijakan ini hanya menguntungkan kelompok tertentu. Justru mereka yang hidup paling dekat dengan realitas ekonomi rumah tangga sering kali menjadi pihak yang paling cepat merasakan manfaatnya.
—
Namun, kritik terhadap pemerintah bukan berarti kehilangan relevansi.
Ada satu syarat yang tidak boleh ditawar.
Jika warga sudah disiplin memilah sampah di rumah, maka pemerintah wajib menjaga disiplin itu hingga ke hilir. Tidak boleh lagi terjadi ironi ketika empat jenis sampah yang telah dipisahkan dengan susah payah akhirnya dilempar ke bak truk yang sama.
Di sinilah integritas sistem diuji.
Edukasi di hulu harus bertemu dengan profesionalisme di hilir.
Armada pengangkut harus disiapkan.
Petugas harus dilatih.
Sistem pengolahan harus diperbaiki.
Jika salah satu mata rantai putus, kepercayaan publik ikut runtuh.
—
TPA Tamangapa di Kecamatan Manggala telah lama menjadi cermin dari keterlambatan kita membangun budaya baru. Gunungan sampah yang terus meninggi sesungguhnya bukan hanya tumpukan plastik dan sisa makanan. Ia adalah monumen dari kebiasaan lama yang menunda perubahan.
Kita terlalu lama percaya bahwa sampah akan hilang begitu keluar dari pagar rumah.
Padahal, tidak ada sampah yang benar-benar hilang.
Ia hanya berpindah tempat.
Berpindah ke sungai.
Berpindah ke laut.
Berpindah menjadi asap.
Berpindah menjadi banjir.
Berpindah menjadi penyakit.
Dan pada akhirnya, kembali kepada manusia dalam bentuk yang lebih mahal.
—
“Sampahmu Tanggung Jawabmu” sesungguhnya bukanlah slogan tentang sampah.
Ia adalah pelajaran tentang peradaban.
Tentang bagaimana warga belajar menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar pelanggan layanan publik.
Karena kota yang bersih tidak pernah lahir hanya dari truk pengangkut yang lebih banyak atau anggaran yang lebih besar. Kota yang bersih selalu dimulai dari kesediaan warganya mengakui bahwa setiap sampah yang mereka hasilkan adalah bagian dari kisah mereka sendiri.
Mungkin inilah mitos terbesar yang selama ini hidup di lorong-lorong Makassar: bahwa membayar retribusi berarti telah menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada negara.
Padahal, kota tidak dibangun hanya oleh pemerintah.
Kota dibangun oleh karakter warganya.
Dan barangkali, revolusi lingkungan yang sesungguhnya tidak dimulai di Tempat Pemrosesan Akhir, melainkan di sudut dapur yang sunyi—ketika seseorang memutuskan untuk memisahkan sampahnya, sebelum ia meminta dunia menjadi lebih bersih.







