BERITAINEWS, MAKASSAR – SMA Islam Athirah Bukit Baruga menggelar Athirah Baruga Education Expo (ABEE) Volume 5 di Onyx Ballroom, Myko Hotel, Kecamatan Panakkukang, Makassar, Sabtu (17/10/2026). Kegiatan ini menampilkan 99 karya proyek akhir siswa kelas XII sebagai wadah pengembangan kompetensi, kreativitas, dan eksplorasi karier.
Mengusung tema Discover Your Strengths, Explore Your Career Direction, kegiatan tersebut melibatkan tujuh guru besar dari sejumlah perguruan tinggi sebagai penguji eksternal. Para akademisi memberikan penilaian sekaligus masukan terhadap proyek yang dikembangkan siswa sesuai bidang kajian masing-masing.
Kepala SMA Islam Athirah Bukit Baruga, Dr. Bakry Liwang, mengatakan ABEE telah dilaksanakan secara konsisten selama lima tahun. Program ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan gagasan, mengerjakan proyek sesuai minat, serta mempresentasikan hasilnya kepada publik.
“Proyek akhir ini terdiri atas karya ilmiah, literasi berupa pembuatan buku, proyek digital, proyek magang, dan program pengabdian masyarakat. Persiapannya mencakup proses seleksi, pelaksanaan kegiatan, hingga penyusunan laporan,” ujar Bakry.
Menurutnya, proyek akhir dirancang untuk membekali siswa dengan pengalaman dan keterampilan yang relevan sebagai persiapan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi maupun memasuki dunia kerja.
Dalam pelaksanaannya, program tersebut menitikberatkan pada penguatan tujuh kompetensi utama, yakni berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, berpikir komputasional, pembentukan karakter, serta kemampuan menyelesaikan persoalan kompleks.
Keterlibatan akademisi dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Negeri Makassar (UNM), dan Universitas Muslim Indonesia (UMI) menjadi salah satu upaya sekolah memperluas pengalaman akademik siswa.
“Sejak awal, kami menghadirkan guru besar agar siswa dapat berinteraksi langsung dengan pakar di bidangnya dan memperoleh masukan profesional,” jelas Bakry.
Ia menambahkan, pelibatan guru besar sebagai penguji eksternal mulai diterapkan pada ABEE Volume 4. Sebelumnya, penilaian proyek pada Volume 1 hingga Volume 3 belum menggunakan pola tersebut.
Bakry juga mengungkapkan bahwa sejumlah karya ilmiah siswa dari penyelenggaraan ABEE sebelumnya telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Pihak sekolah berharap capaian tersebut dapat terus berkembang, baik dari sisi kualitas penelitian maupun jumlah karya yang berhasil diterbitkan.
Sementara itu, Ketua Panitia ABEE Volume 5, Utari Ratih Purwaningrum, menyebut penyelenggaraan tahun ini memiliki keistimewaan melalui keterlibatan siswa inklusi. Dua karya di bidang kewirausahaan yang dikembangkan siswa dengan kebutuhan pendampingan khusus turut dipamerkan dalam kegiatan tersebut.
“Hal yang berbeda tahun ini adalah adanya dua karya dari siswa inklusi, termasuk siswa yang membutuhkan pendampingan khusus. Karya-karya tersebut dikembangkan dalam bidang kewirausahaan,” ungkap Utari.
Ia menjelaskan, setiap siswa mendapatkan pendampingan dari guru pembimbing yang ditetapkan melalui surat keputusan. Para siswa kemudian mengembangkan proyek berdasarkan pilihan masing-masing, menyusun laporan, dan mempresentasikan hasilnya dalam pameran.
Menurut Utari, proses tersebut memberikan pengalaman menyeluruh kepada siswa, mulai dari merancang ide, menjalankan kegiatan, mendokumentasikan proses, hingga mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan mereka.
Meski waktu pengerjaan proyek tahun ini relatif lebih singkat, antusiasme siswa tetap terlihat melalui beragam karya yang dipamerkan. Pilihan proyek yang bervariasi juga memberikan ruang bagi peserta untuk mengeksplorasi minat dan mengembangkan potensi masing-masing.
Utari berharap kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ajang pameran, tetapi juga menghasilkan pengalaman yang bermanfaat bagi perjalanan akademik dan profesional para siswa.
“Kami berharap laporan dan proyek yang dihasilkan tidak berhenti sampai di sini, tetapi dapat menjadi bekal ketika mereka memasuki dunia kerja maupun melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi,” tuturnya.
Melalui ABEE Volume 5, SMA Islam Athirah Bukit Baruga berupaya memperkuat pembelajaran berbasis proyek sekaligus mendorong siswa menghasilkan karya yang relevan dengan kebutuhan masa depan. Keterlibatan siswa inklusi juga menjadi bagian dari upaya memberikan ruang berkarya bagi peserta didik dengan beragam potensi dan kebutuhan. (**)







